Rayuan Pulau Kelapa

Jumat, 17 Juli 2009



Ismail Marzuki, komposer nasional asal Betawi, menulis lirik di atas sekitar tahun 1936-1937. Pada masa itu Ma’ing —begitu ia dipanggil— dan orkesnya, diminta mengisi acara radio di Bandung di segmen lagu-lagu Barat.

Itulah masa-masa saat ia mempelajari dan menguasai komposisi lagu-lagu barat dan lagu tradisional. Banyak lagu Barat yang digubah dan diterjemahkan. Salah satunya adalah Ochi Chyornye (Mata Hitam – Panon Hideung), berkat bantuan Zarkov, seniman asal Rusia yang tinggal di Bandung.
Sebagai informasi, jaman dulu memang banyak seniman asal Rusia berkarya di sini, ada orkes asal Rusia yang tampil reguler di Hotel Des Indes selama 10 tahun, atau di Surabaya ada Pedro (atau Pyotr=Peter), sang pendiri teater Dardanella yang legendaris.

Saat itu, Ma’ing berjumpa dan jatuh cinta pada mojang Parahiayangan yang sangat cantik —sesuai dengan fotonya di bawah ini— Miss Eulis.

Miss Eulis adalah bintang radio, penyanyi kroncong berdarah Sunda dan Arab. Tampaknya Miss Eulis memang bermata indah, hidung mancung dan berkulit kuning langsat. Ochi Chyornye pun digubah Ma’ing sesuai dengan suasana hatinya saat itu.

Hati wanita mana yang tak luluh. Ma’ing pun berhasil menikahi Miss Eulis pada 1940, dan memberinya nama Eulis Zuraidah.
[sumber: tulisan Barlan Setiadijaya, Surianto Kartaatmadja, Remy Silado, foto: kyotoreviewsea.org]

Generasi masa kini mungkin sangat yakin bahwa Panon Hideung adalah lagu tradisional Pasundan. Namun Rusia sama sekali tidak terusik, Presiden Putin hanya bertanya pada SBY “kok bisa?” saat disuguhi nyanyian pada kunjungan September tahun lalu.

Tak ada emosi atau tuntutan gaya kita. Ini kemungkinan besar karena lagu itu sejatinya terus hidup dan berkembang sebagai budaya Rusia. Rakyat menyanyikannya di berbagai kesempatan: di acara pernikahan; di kafe; di jalanan; saat sadar atau mabuk (pemabuk di sana lebih suka bernyanyi atau molor daripada membuat onar). Sungguh merakyat, bahkan lebih. Lagu itu juga diperformansi oleh Red Army Choir atau oleh para profesional di film, televisi, konser, atau di opera house di dalam mau pun di luar negeri. Barangkali perannya bagi mereka mirip dengan peran batik bagi kita.

Itulah kekuatan budaya yang hidup. Kekuatan budaya yang bukan sekedar kenangan masa kecil. Kekuatan yang akan membentengi dengan sendirinya jika ada yang mencoba mengklaim Ochi Chyornye sebagai lagu asli rakyat Pasundan.
Tidak hanya karena lagu itu hidup dan berkembang di Rusia, liriknya pun sudah ditelusuri: sebuah puisi gubahan Yevgeniy Pavlovich yang tercetak 17 Januari 1843, aransemennya sudah terpublikasi pada 1884. Bahkan kaum gypsy di seluruh Eropa sudah menganggap Ochi Chyornye sebagai lagu leluhur mereka. Bahwa liriknya adalah karya orang Ukraina dan aransemennya digubah Florian Hermann —orang Jerman, tidaklah menjadi soal.

Ada sebuah kenyataan yang terasa cukup pahit. Di internet sulit sekali mendapatkan vokal Panon Hideung. Di YouTube ada instrumental versi Tielman Brothers (1960), sebuah band indo yang sangat populer hingga ke Belanda. Ada juga Sandii —seorang diva J-pop, gadis Jepang— meremix beberapa versi Panon Hideung di album Pacifica dan Joget to the Beat (keduanya 1992). Sebagian syairnya diubah, putri Bandung menjadi jejaka Bandung (pada 1993 bersama Oma Irama menelurkan album Air Mata).

Meski sebenarnya bukan, namun kita tahu bahwa lagu itu pernah hidup sebagai lagu rakyat Pasundan. Panon Hideung dinyanyikan orang Sunda?
Dunia maya tidak pernah mendengar.
Padahal generasi masa kini tidak bisa lagi lepas dari dunia maya. Jangan heran jika generasi Indonesia mendatang sama sekali tidak mengenal lagu rakyatnya.

Coba anda google gamelan atau keroncong di imeem —semacam friendster untuk mendengarkan atau mempromosikan lagu-lagu— banyak anak-anak muda Malaysia yang menggemari gamelan dan kroncong, juga angklung. Ada beberapa gubahan atau aransemen baru yang menggugah: yakin akan jauh lebih hebat jika digubah anak Indonesia.
Tapi anak bangsa seakan mengolok-olok budayanya sendiri, semisal Keroncong Iblis Surakarta, sementara di imeem yang sama ada Keroncong Hari Raya kreasi Malaysia menyambut Lebaran…

Jadi, janganlah naik emosi kalau suatu saat Malaysia menganggap angklung, gamelan dan kroncong adalah budayanya. Jika apresiasi dan kreativitas mereka lebih besar dan serius, maka budaya kita memang lebih memiliki peluang untuk hidup dan berkembang di sana.
Jauh lebih baik daripada punah sama sekali, bukan?

Ayo semangat. Berkreasilah dengan harta karun yang kita miliki, yang tersebar dari ujung ke ujung Nusantara. Hidupkan dan kembangkan budaya dan tradisi yang penuh nilai. Jangan biarkan anak-anak kita nanti miskin di tengah-tengah kekayaan yang berlimpah ini…


Rayuan Pulau Kelapa adalah lagu Indonesia yang ditulis oleh Ismail Marzuki (1914-1958). Lirik lagu ini berisi tentang keindahan alam Indonesia, seperti flora, kepulauan, dan pantainya.

Lagu ini menjadi lagu nostalgia di Indonesia, terutama yang meninggalkan negara Indonesia ke Belanda pada tahun 1940-an dan 1950-an. Pada era presiden Suharto, TVRI memainkan lagu ini sebagai lagu penutup di akhir siaran.

Lirik
Tanah air ku amat subur dengar kanlah rayuan akal buku
kepadamu jiwa ku berlagu rayuan tanah air ku

Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulya
Yang kupuja s'panjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala
Melambai-lambai, nyiur di pantai
Berbisik-bisik, Raja K'lana
Memuja pulau, yang indah permai
Tanah airku Indonesia

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Rayuan pulau kelapa...bukan Rayuan cewek ya...hehehe

top..sukses selalu

makasiy kunjungan yak..lain waktu mampir lagi.

Video Terbakarnya Rambut Jacko